Kamis, 02 September 2010

Penelitian Akuntansi Keuangan dan Pasar Modal



PENGARUH EARNING,
MANAJEMEN LABA, IOS, BETA, SIZE
DAN RASIO HUTANG TERHADAP RETURN SAHAM PADA PERUSAHAAN YANG GO PUBLIC DI BEI

Oleh :
Achmad Solechan*)

ABSTRAKSI

Penelitian ini merujuk dari penelitian yang dilakukan oleh Gul, Leung dan Srinindhi (2000) karena termotivasi atas gap research yang terjadi dengan beberapa peneliti sebelumnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh Earning, Manajemen Laba, IOS, Beta, Size dan Rasio Hutang terhadap Return Saham pada perusahaan manufaktur di Bursa Efek Indonesia.
Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan yang go publik dan terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2003 – 2006 sebanyak 343 perusahaan. Sampel penelitian sebanyak 152 perusahaan.dengan menggunakan metode purposive sampling yaitu pengambilan data berdasarkan kriteria-kriteria tertentu.
Hasil penelitian diperoleh bahwa ada pengaruh yang positif antara Earning terhadap Return Saham; tidak ada pengaruh yang signifikan antara Diskresioner Akrual terhadap Return Saham; tidak ada pengaruh antara IOS terhadap Return Saham; tidak ada pengaruh antara Beta saham terhadap Return Saham; tidak ada pengaruh antara Size terhadap Return Saham dan ada pengaruh signifikan dan negative antara Rasio hutang terhadap Return Saham.

Kata Kunci : Earning, Diskresioner Akrual, IOS, Beta, Size, Rasio Hutang dan Return Saham.

ABSTRACT

This research refer from research conducted by Gul, Leung And Srinindhi (2000) because motivating to the research gap that happened with a few previous researcher. Target of this research is to analyze influence of Earning, Earning Management, IOS, Beta, Size and Debt Ratio to Stock Return at manufacturing in Indonesian Stock Exchange.
Population in this research is go public companies and enlist in Indonesia Stock Exchange in the year 2003 - 2006 counted 343 company. Research sample counted 152 manufacturing industry use sampling purposive method that is intake of data pursuant to certain criterion.
Result of research obtained that there is influence which are positive Earning to Stock Return; there no influence which is significant Discretionary Accrual to Stock Return; there no influence IOS to Stock Return; there no influence Beta to Stock Return; there no influence Size to Stock Return and there is significant influence and negative Debt Ratio to Stock Return.


Keywords : Earning, Diskresioner Akrual, IOS, Beta, Size, Debt and Stock Return.


1. Latar Belakang Masalah
Laporan keuangan merupakan sumber informasi yang digunakan untuk menilai posisi keuangan dan kinerja perusahaan yang terdiri dari neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan ekuitas dan laporan arus kas (Standar Akuntansi Keuangan No. 1). Manajer dapat memodifikasi laporan keuangan yang disusun untuk menghasilkan jumlah laba (earning) yang diinginkan. Manajemen suatu perusahaan menyiapkan laporan keuangan dengan menggunakan cara yang berbeda sesuai dengan tujuan perusahaan masing-masing. Laporan keuangan harus mengikuti standar akuntansi keuangan bila diterbitkan untuk orang lain, seperti pemegang saham, kreditur, karyawan dan masyarakat luas, sehingga memberikan keleluasaan manajer untuk memilih metode akuntansi dalam menyusun laporan keuangan.
Penelitian ini merujuk pada beberapa hal dan salah satunya tentang earning disebabkan karena dasar akrual dalam laporan keuangan memberikan kesempatan kepada manajer memodifikasi laporan keuangan untuk menghasilkan jumlah laba (earning) yang diinginkan. Kajian yang lainnya yaitu tentang manajemen laba yang dilakukan manajer yang terdiri dari diskresioner akrual dan non diskresioner akrual. Manajemen laba merupakan hal diperhatikan karena melibatkan potensi pelanggaran, kejahatan, dan konflik yang dibuat pihak manajemen perusahaan dalam rangka menarik minat investor. Manajemen laba dilakukan oleh manajer perusahaan dengan tujuan agar mereka dikontrak kembali untuk menjabat sebagai manajer di perusahaan tersebut di periode berikutnya (Kin Lo, 2007: 1). Investor bersedia menyalurkan dananya melalui pasar modal disebabkan karena perasaan aman akan berinvestasi dan tingkat return yang akan diperoleh dari investasi tersebut. Return memungkinkan investor untuk membandingkan keuntungan aktual ataupun keuntungan yang diharapkan yang disediakan oleh berbagai investasi pada tingkat pengembalian yang diinginkan. Di sisi lain, return pun memiliki peran yang amat signifikan dalam menentukan nilai dari suatu investasi (Daniati dan Suhairi, 2006). Dari pernyataan di atas, perlu dilakukan penelitian untuk menganalisis pengaruh Earning dan Manajemen Laba (diskresioner akrual dan non diskresioner akrual) sebagai variabel bebas terhadap return saham. Di samping kedua variabel tersebut, terdapat pula variabel-variabel lain sebagai bahan pertimbangan investor dalam berinvestasi antara lain : IOS, Beta, Size, dan rasio hutang yang diambil dari penelitian yang dilakukan oleh Gul, Leung dan Srinindhi (2000).
Kesempatan perusahaan untuk tumbuh yang disebut dengan Investment Opportunity Set (IOS) diperkenalkan pertama kali oleh Myers (1977) yaitu keputusan investasi dalam bentuk kombinasi aktiva yang dimiliki dan pilihan investasi di masa yang akan datang (Kallapur dan Trombley, 2001). Menurut Gaver dan Gaver (1983) investasi di masa mendatang tidak semata-mata hanya ditunjukkan dengan adanya proyek-proyek yang didukung oleh kegiatan riset dan pengembangan saja, tetapi juga dengan kemampuan perusahaan dalam mengeksploitasi kesempatan mengambil keuntungan dibandingkan dengan perusahaan lain yang setara dalam suatu kelompok industrinya. IOS dijadikan sebagai dasar untuk menentukan klasifikasi pertumbuhan perusahaan di masa depan, apakah suatu perusahaan termasuk dalam klasifikasi bertumbuh atau tidak bertumbuh. Nilai kesempatan investasi merupakan nilai sekarang dari pilihan-pilihan perusahaan untuk membuat investasi di masa mendatang. Menurut Kole (1991), nilai IOS bergantung pada pengeluaran-pengeluaran yang ditetapkan manajemen di masa yang akan datang (future discretionary expenditure) yang pada saat ini merupakan pilihan-pilihan investasi yang diharapkan akan menghasilkan return yang lebih besar dari biaya modal (cost of equity) dan dapat menghasilkan keuntungan. Perusahaan dengan pertumbuhan yang baik akan dipertimbangkan oleh investor dalam berinvestasi yang disebabkan karena return saham yang diharapkan dapat diperoleh di masa mendatang oleh investor.
Risiko (beta) sering dihubungkan dengan penyimpangan/deviasi dari outcome yang diterima dengan yang diekspektasi. Risiko ada dua yaitu risiko sistematik dan risiko non sistematik (Jogiyanto, 2000: 94). Dalam beberapa penelitian lebih sering menggunakan risiko sistematik yaitu risiko yang dihadapi perusahaan yang berkaitan dengan kejadian–kejadian di luar kegiatan operasional perusahaan seperti inflasi, resesi dan sebagainya. Risiko pasar yang besar akan memberikan informasi bagi investor untuk berhati-hati dalam pengambilan keputusan berinvestasi. Para investor berhati-hati (cenderung menunggu) ketika kondisi pasar tidak stabil, sehingga menimbulkan permintaan saham oleh pasar yang menurun. Dengan menurunnya minat investor tersebut, maka harga saham relatif menurun, sehingga berdampak pada investor menanamkan investasinya pada situasi atau kondisi yang berisiko tinggi. Perusahaan dengan risiko (beta) yang besar akan memberikan insentif yang besar pula kepada para manajer yang mengelola perusahaan tersebut agar pengelolaan perusahaan dilakukan dengan sebaik-baiknya. Dari argumen tersebut dapat disimpulkan bahwa beta berpengaruh positif terhadap tindakan manajemen laba oleh para manajer (Gul, Leung dan Srinindhi, 2000). Risiko dalam berinvestasi akan dipertimbangkan oleh investor dalam penanaman sahamnya. Mereka tidak ingin berspekulasi yang mengakibatkan kerugian yang besar (capital loss).
Ukuran perusahaan (size) menggambarkan besar kecilnya suatu perusahaan yang ditunjukkan oleh total aktiva, jumlah penjualan, rata-rata tingkat penjualan dan rata-rata total aktiva. Perusahaan yang berskala besar akan lebih mudah memperoleh pinjaman dibandingkan dengan perusahaan kecil. Dalam penelitian ini ukuran perusahaan diukur dengan menggunakan total aktiva. Perusahaan yang besar memiliki pertumbuhan yang relatif lebih besar dibandingkan perusahaan kecil, sehingga tingkat pengembalian (return) saham perusahaan besar lebih besar dibandingkan return saham pada perusahaan berskala kecil. Oleh karena itu, investor akan lebih berspekulasi untuk memilih perusahaan besar dengan harapan memperoleh keuntungan (return) yang besar pula.
Rasio hutang atau leverage atau solvabilitas yaitu rasio untuk menghitung seberapa besar dana disediakan oleh kreditur. Rasio yang tinggi berarti perusahaan menggunakan leverage keuangan yang tinggi. Penggunaan leverage yang tinggi akan meningkatkan modal perusahaan dengan cepat, tetapi sebaliknya apabila penjualan menurun, modal perusahaan akan menurun dengan cepat pula. (Hanafi dan Halim, 2000: 75). Dengan semakin tinggi rasio hutang perusahaan menunjukkan bahwa tingginya hutang perusahaan yang dibiayai oleh modal saham yang ditanamkan pemegang saham (investor) akan memberikan beban tersendiri karena investor merasa terbebani dengan besarnya hutang yang dimiliki perusahaan. Investor tidak ingin mengambil resiko yang besar dalam berinvestasi dengan harapan bahwa investor nantinya memperoleh pengembalian (return) saham yang menguntungkan bagi mereka. Dengan rasio hutang yang tinggi menunjukkan tingkat hutang perusahaan yang tinggi pula, sehingga mengakibatkan sebagian investor takut dalam berspekulasi dalam penanaman sahamnya ke perusahaan tersebut.
Penelitian ini merujuk dari penelitian yang dilakukan oleh Gul, Leung dan Srinindhi (2000). Motivasi yang melatarbelakangi adanya penelitian ini adalah adanya perbedaan hasil penelitian yang dilakukan oleh beberapa peneliti dan dijelaskan sebagai berikut :
(a) Gul, Leung dan Srinindhi (2000); Pradhono dan Yulius Jogi Chritiawan (2004) menemukan bahwa Earning berpengaruh positif terhadap return saham; sedangkan penelitian oleh Robiatul Auliyah dan Ardi Hamzah (2006) memperoleh bahwa earning tidak berpengaruh terhadap return saham.
(b) Dalam menganalisis pengaruh diskresioner akrual yang dilakukan oleh Gul, Leung dan Srinindhi (2000) memperoleh hasil bahwa variabel Non Diskresioner Akrual atau NDE dan Diskresioner Akrual atau DA berpengaruh positif terhadap return saham; sedangkan penelitian oleh Fanani (2006) memperoleh hasil bahwa variabel Diskresioner Akrual tidak berpengaruh signifikan terhadap return saham.
(c) Hasil penelitian lain adanya gap research pada variabel kontrol dilakukan oleh Jati (2005) dan Norpratiwi (2005) memperoleh hasil bahwa IOS tidak berpengaruh signifikan terhadap return saham. Namun penelitian yang dilakukan Gul, Leung dan Srinindhi (2000) dan Fanani (2006) berhasil membuktikan adanya pengaruh positif antara IOS terhadap return saham. Beta tidak berpengaruh signifikan terhadap return saham (Meythi, 2006); namun penelitian yang dilakukan oleh Pattengill, Sundaram, and Mathur (1995) diperoleh bahwa beta berpengaruh positif terhadap return saham. Sedangkan Daniati dan Suhairi (2006) memperoleh hasil bahwa size berpengaruh negatif terhadap diskresioner akrual; namun penelitian yang dilakukan Rachmawati dan Triatmoko (2007); Halim, Meiden, dan Tobing (2005); Hall dan Stammerjohan (1997) menunjukkan ukuran perusahaan tidak berpengaruh terhadap diskresioner akrual. Sedangkan penelitian yang dilakukan Yacob dan Qomariyah (2006) membuktikan adanya pengaruh positif size terhadap diskresioner akrual. Rachmawati dan Triatmoko (2007); Halim, Meiden, dan Tobing (2005); Dechow (1996) dan Widyaningdyah (2001) menemukan bahwa rasio hutang (leverage) berpengaruh positif terhadap diskresioner akrual.

Berdasarkan research gap dan pernyataan-pernyataan di atas, maka penelitian ini mengambil judul “PENGARUH EARNING, MANAJEMEN LABA, IOS, BETA, SIZE DAN RASIO HUTANG TERHADAP RETURN SAHAM PADA PERUSAHAAN YANG GO PUBLIC DI BEI”.

2. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang permasalahan yang telah dilakukan di atas, maka permasalahan dalam penelitian ini dapat dirumuskan yaitu bagaimana pengaruh Earning, Manajemen Laba, IOS, Beta, Size dan Rasio Hutang terhadap Return Saham pada perusahaan manufaktur di Bursa Efek Indonesia?

3. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini yaitu untuk menganalisis pengaruh Earning, Manajemen Laba, IOS, Beta, Size dan Rasio Hutang terhadap Return Saham pada perusahaan manufaktur di Bursa Efek Indonesia.

4. Return Saham
Menurut Ang (1997: 97) konsep return (kembalian) adalah tingkat keuntungan yang dinikmati oleh pemodal atas suatu investasi yang dilakukannya. Return saham merupakan income yang diperoleh oleh pemegang saham sebagai hasil dari investasinya di perusahaan tertentu. Return saham dapat dibedakan menjadi dua jenis (Jogiyanto, 2000), yaitu return realisasi (realized return) dan return ekspetasi (expected return). Return realisasi merupakan return yang sudah terjadi yang dihitung berdasarkan data historis. Return realisasi ini penting dalam mengukur kinerja perusahaan dan sebagai dasar penentuan return dan risiko di masa mendatang. Sedangkan return ekspetasi merupakan return yang diharapkan terjadi di masa mendatang dan masih bersifat tidak pasti.
Komponen penghitungan return saham (total return) terdiri dari capital gain(loss) dan dividen (Dt). Return saham secara keseluruhan dapat dihitung dengan menggunakan rumus (Jogiyanto, 2000):
Return Saham =
Dimana:
P(t) = Harga Saham pada bulan ke – t
P(t-1) = Harga Saham pada bulan ke t-1
D(t) = Dividen pada bulan ke – t

Para investor termotivasi untuk melakukan investasi pada suatu instrumen yang diinginkan dengan harapan untuk mendapatkan kembalian investasi yang sesuai. Return merupakan hasil yang diperoleh dari investasi atau tingkat keuntungan yang dinikmati oleh pemodal atas suatu investasi yang dilakukannya (Hartono, 2000: 107). Tanpa keuntungan yang diperoleh dari suatu investasi yang dilakukannya, tentunya investor tidak mau melakukan investasi yang tidak ada hasilnya. Setiap investasi, baik jangka pendek maupun jangka panjang mempunyai tujuan utama yaitu memperoleh keuntungan yang disebut return, baik secara langsung maupun tidak langsung. Return saham dapat berupa return realisasi yang sudah terjadi atau return ekspektasi yang belum terjadi, akan tetapi diharapkan akan terjadi di masa yang akan datang. Return realisasi dihitung berdasarkan data historis. Return realisasi dapat digunakan sebagai salah satu pengukuran kinerja perusahaan dan dapat juga digunakan sebagai dasar penentu return ekspektasi dan risiko di masa yang akan datang.
Isu pada bagaimana pasar modal memproses informasi akuntansi terutama laba dan komponennya merupakan hal penting bagi partisipan pasar modal. Subramanyam (1996) dalam Ardiati (2005) menemukan bahwa diskresioner total akrual berhubungan dengan harga saham, laba yang akan datang dan aliran kas. Subramanyam (1996) dalam Ardiati (2005) menyimpulkan bahwa manajer memilih akrual untuk meningkatkan keinformatifan laba akuntansi. Healy dan Wahlen (1998) dalam Saiful (2004) membagi motivasi yang mendasari manajemen laba ke dalam tiga kelompok yang salah satunya motivasi dari pasar modal yang ditunjukkan oleh return saham. Sedangkan motivasi lainnya adalah motivasi kontrak yang dapat berupa kontrak utang dan kompensasi manajemen dan yang terakhir motivasi regulatory.

5. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Return Saham
5.1. Hubungan Earning dengan Return Saham
Earning dapat diukur dengan menggunakan laba per lembar saham (earning per share). Menurut Faisal Abdullah (2001) earning per share adalah rasio yang digunakan untuk mengukur jumlah rupiah yang diterima untuk setiap lembar saham biasa. Pada umumnya para pemegang saham atau calon pemegang saham sangat berkepentingan dengan earning per share. Guna menghitung EPS perlu menghitung berapa besar laba bersih untuk pemegang saham biasa (common stock). Untuk itulah laba bersih sesudah pajak harus dikurangi dengan deviden preferen stock.
Dasar akrual dalam laporan keuangan memberikan kesempatan kepada manajer memodifikasi laporan keuangan untuk menghasilkan jumlah laba (earning) yang diinginkan. Rendahnya kualitas laba akan dapat membuat kesalahan pembuatan keputusan para pemakainya seperti investor dan kreditor, sehingga kualitas laba akan berkurang (Siallagan dan Machfoedz, 2006). Laba sebagai bagian dari laporan keuangan yang tidak menyajikan fakta yang sebenarnya tentang kondisi ekonomis perusahaan dapat diragukan kualitasnya. Laba yang tidak menunjukkan informasi yang sebenarnya tentang kinerja manajemen dapat menyesatkan pihak pengguna laporan. Jika laba seperti ini digunakan oleh investor untuk membentuk nilai pasar perusahaan, maka laba tidak dapat menjelaskan nilai pasar perusahaan yang sebenarnya.
5.2. Hubungan Manajemen Laba dengan Return Saham
Manajemen laba merupakan salah satu faktor yang perlu diperhatikan karena melibatkan potensi pelanggaran, kejahatan, dan konflik yang dibuat pihak manajemen perusahaan dalam rangka menarik minat investor. Manajemen laba dilakukan oleh manajer perusahaan dengan tujuan agar mereka dikontrak kembali untuk menjabat sebagai manajer di perusahaan tersebut di periode berikutnya (Kin Lo, 2007: 1).
Manajemen laba merupakan hal diperhatikan karena melibatkan potensi pelanggaran, kejahatan, dan konflik yang dibuat pihak manajemen perusahaan dalam rangka menarik minat investor. Manajemen laba dilakukan oleh manajer perusahaan dengan tujuan agar mereka dikontrak kembali untuk menjabat sebagai manajer di perusahaan tersebut di periode berikutnya (Kin Lo, 2007: 1). Manajemen laba yang tinggi akan berhubungan erat dengan kualitas laba yang rendah dan manajer melakukan manajemen laba untuk menjamin laba yang berkualitas tinggi (Daniati dan Suhairi, 2006).
Investor bersedia menyalurkan dananya melalui pasar modal disebabkan karena perasaan aman akan berinvestasi dan tingkat return yang akan diperoleh dari investasi tersebut. Return memungkinkan investor untuk membandingkan keuntungan aktual ataupun keuntungan yang diharapkan yang disediakan oleh berbagai investasi pada tingkat pengembalian yang diinginkan. Di sisi lain, return pun memiliki peran yang amat signifikan dalam menentukan nilai dari suatu investasi (Daniati dan Suhairi, 2006).
5.3. Hubungan Investment Opportunity Set (IOS) dengan Return Saham
Menurut Myers (1977) dalam Smith dan Watts (1992), perusahaan adalah kombinasi antara nilai asset in place dengan pilihan investasi di masa yang akan datang. Pilihan investasi merupakan suatu kesempatan untuk berkembang, namun seringkali perusahaan tidak selalu dapat melaksanakan semua kesempatan investasi di masa mendatang. Bagi perusahaan yang tidak dapat menggunakan kesempatan investasi tersebut akan mengalami suatu pengeluaran yang lebih tinggi dibandingkan dengan nilai kesempatan yang hilang. Nilai kesempatan investasi merupakan nilai sekarang dari pilihan-pilihan perusahaan untuk membuat investasi di masa mendatang. Menurut Kole (1991), dalam Gaver & Gaver (1993), nilai IOS bergantung pada pengeluaran-pengeluaran yang ditetapkan manajemen di masa yang akan datang (future discretionary expenditure) yang pada saat ini merupakan pilihan-pilihan investasi yang diharapkan akan menghasilkan return yang lebih besar dari biaya modal (cost of equity) dan dapat menghasilkan keuntungan.
Kesempatan perusahaan untuk tumbuh yang disebut dengan Investment Opportunity Set (IOS) yang diperkenalkan oleh Myers (1977) yaitu keputusan investasi dalam bentuk kombinasi aktiva yang dimiliki dan pilihan investasi di masa yang akan datang (Kallapur dan Trombley, 2001). Menurut Gaver dan Gaver (1983) investasi di masa mendatang tidak semata-mata hanya ditunjukkan dengan adanya proyek-proyek yang didukung oleh kegiatan riset dan pengembangan saja, tetapi juga dengan kemampuan perusahaan dalam mengeksploitasi kesempatan mengambil keuntungan dibandingkan dengan perusahaan lain yang setara dalam suatu kelompok industrinya. IOS dijadikan sebagai dasar untuk menentukan klasifikasi pertumbuhan perusahaan di masa depan, apakah suatu perusahaan termasuk dalam klasifikasi bertumbuh atau tidak bertumbuh. Nilai kesempatan investasi merupakan nilai sekarang dari pilihan-pilihan perusahaan untuk membuat investasi di masa mendatang. Menurut Kole (1991), nilai IOS bergantung pada pengeluaran-pengeluaran yang ditetapkan manajemen di masa yang akan datang (future discretionary expenditure) yang pada saat ini merupakan pilihan-pilihan investasi yang diharapkan akan menghasilkan return yang lebih besar dari biaya modal (cost of equity) dan dapat menghasilkan keuntungan.
5.4. Hubungan Risiko Sistematik (Beta) dengan Return Saham
Risiko sering dihubungkan dengan penyimpangan / deviasi dari out come yang diterima dengan yang diekspektasi. Resiko sistematis (systematic risk) adalah variasi pengembangan saham/portofolio berhubungan dengan perubahan pengembangan dalam pasar secara keseluruhan. Resiko yang tidak dapat didiversifikasikan disebut sebagai resiko pasar atau resiko umum atau resiko sistematik. Resiko ini terjadi karena kejadian–kejadian di luar kegiatan perusahaan seperti inflasi, resesi dan sebagainya.
Dalam beberapa penelitian lebih sering menggunakan risiko sistematik yaitu risiko yang dihadapi perusahaan yang berkaitan dengan kejadian–kejadian di luar kegiatan operasional perusahaan seperti inflasi, resesi dan sebagainya. Risiko pasar yang besar akan memberikan informasi bagi investor untuk berhati-hati dalam pengambilan keputusan berinvestasi. Para investor berhati-hati (cenderung menunggu) ketika kondisi pasar tidak stabil, sehingga menimbulkan permintaan saham oleh pasar yang menurun. Dengan menurunnya minat investor tersebut, maka harga saham relatif menurun, sehingga berdampak pada investor menanamkan investasinya pada situasi atau kondisi yang berisiko tinggi.
5.5. Hubungan Ukuran Perusahaan (Size) dengan Return Saham
Ukuran perusahaan (size) menggambarkan besar kecilnya suatu perusahaan yang ditunjukkan oleh total aktiva, jumlah penjualan, rata-rata tingkat penjualan dan rata-rata total aktiva. Perusahaan yang berskala besar akan lebih mudah memperoleh pinjaman dibandingkan dengan perusahaan kecil. Dalam penelitian ini ukuran perusahaan diukur dengan menggunakan total aktiva. Perusahaan yang lebih besar memiliki pertumbuhan yang lebih besar dibandingkan perusahaan kecil, sehingga tingkat pengembalian (return) saham perusahaan besar lebih besar dibandingkan return saham pada perusahaan berskala kecil.
5.6. Hubungan Rasio Hutang dengan Return Saham
Rasio hutang atau leverage atau solvabilitas merupakan istilah yang sering digunakan perusahaan untuk mengukur kemampuan perusahaan di dalam memenuhi seluruh kewajiban finansialnya apabila perusahaan dilikuidasi, secara umum leverage dapat dihitung dengan membagi total hutang dengan total ekuitas.
Rasio hutang atau leverage atau solvabilitas yaitu rasio untuk menghitung seberapa besar dana disediakan oleh kreditur. Rasio yang tinggi berarti perusahaan menggunakan leverage keuangan yang tinggi. Penggunaan leverage yang tinggi akan meningkatkan modal perusahaan dengan cepat, tetapi sebaliknya apabila penjualan menurun, modal perusahaan akan menurun dengan cepat pula. (Hanafi dan Halim, 2000: 75). Dengan semakin tinggi rasio hutang perusahaan menunjukkan bahwa tingginya hutang perusahaan yang dibiayai oleh modal saham yang ditanamkan pemegang saham (investor) akan memberikan beban tersendiri karena investor merasa terbebani dengan besarnya hutang yang dimiliki perusahaan. Investor tidak ingin mengambil resiko yang besar dalam berinvestasi dengan harapan bahwa investor nantinya memperoleh pengembalian (return) saham yang menguntungkan bagi mereka.


6. Kerangka Pemikiran dan Pengembangan Hipotesis
Earning dalam penelitian ini diukur dengan menggunakan laba per lembar saham (earning per share) yaitu adalah rasio yang digunakan untuk mengukur jumlah rupiah yang diterima untuk setiap lembar saham biasa. Pada umumnya para pemegang saham atau calon pemegang saham sangat berkepentingan dengan earning per share. Semakin baik kualitas laba (earning) perusahaan maka akan semakin tinggi keuntungan atas penjualan saham (return saham) perusahaan. Dari pernyataan tersebut, maka hipotesis pertama dalam penelitian ini :
H1 : Earning berpengaruh signifikan terhadap Return Saham

Manajemen laba merupakan hal diperhatikan karena melibatkan potensi pelanggaran, kejahatan, dan konflik yang dibuat pihak manajemen perusahaan dalam rangka menarik minat investor. Manajemen laba yang dilakukan manajer yang terdiri dari diskresioner akrual dan non diskresioner akrual. Manajemen laba dilakukan oleh manajer perusahaan dengan tujuan agar mereka dikontrak kembali untuk menjabat sebagai manajer di perusahaan tersebut di periode berikutnya. Manajemen laba yang tinggi akan berhubungan erat dengan kualitas laba yang rendah dan manajer melakukan manajemen laba untuk menjamin laba yang berkualitas tinggi. Investor bersedia menyalurkan dananya melalui pasar modal disebabkan karena perasaan aman akan berinvestasi dan tingkat return yang akan diperoleh dari investasi tersebut. Return memungkinkan investor untuk membandingkan keuntungan aktual ataupun keuntungan yang diharapkan yang disediakan oleh berbagai investasi pada tingkat pengembalian yang diinginkan. Di sisi lain, return pun memiliki peran yang amat signifikan dalam menentukan nilai dari suatu investasi. Di samping mempertimbangkan manajemen laba (diskresioner akrual), maka untuk mendukung pengambilan keputusan ini perlu diteliti dengan menggunakan variabel-variabel lain sebagai bahan pertimbangan investor dalam berinvestasi. Dari pernyataan tersebut, maka hipotesis kedua dalam penelitian ini :
H2 : Diskresioner Akrual berpengaruh signifikan terhadap Return Saham

Kesempatan perusahaan untuk tumbuh yang disebut dengan Investment Opportunity Set (IOS) yaitu keputusan investasi dalam bentuk kombinasi aktiva yang dimiliki dan pilihan investasi di masa yang akan datang. Semakin besar IOS berarti semakin besar investasi yang ditanamkan perusahaan untuk periode ke depan yang tentunya memberikan dampak baik pada penjualan saham perusahaan yang meningkat dan tentunya akan meningkatkan return saham perusahaan. Dari pernyataan tersebut, maka hipotesis ketiga dalam penelitian ini :
H3 : IOS berpengaruh signifikan terhadap Return Saham
Risiko atau beta sering dihubungkan dengan penyimpangan / deviasi dari out come yang diterima dengan yang diekspektasi. Risiko ada dua yaitu risiko sistematik dan risiko non sistematik. Para investor berhati-hati (cenderung menunggu) ketika kondisi pasar tidak stabil, sehingga menimbulkan permintaan saham oleh pasar yang menurun. Dengan menurunnya minat investor tersebut, maka harga saham relatif menurun, sehingga berdampak pada investor menanamkan investasinya pada situasi atau kondisi yang berisiko tinggi. Dari pernyataan tersebut, maka hipotesis keempat dalam penelitian ini :
H4 : Beta berpengaruh signifikan terhadap Return Saham

Ukuran perusahaan (size) menggambarkan besar kecilnya suatu perusahaan yang ditunjukkan oleh total aktiva, jumlah penjualan, rata-rata tingkat penjualan dan rata-rata total aktiva. Perusahaan yang berskala besar akan lebih mudah memperoleh pinjaman dibandingkan dengan perusahaan kecil. Dalam penelitian ini ukuran perusahaan diukur dengan menggunakan total aktiva. Perusahaan yang lebih besar memiliki pertumbuhan yang lebih besar dibandingkan perusahaan kecil, sehingga tingkat pengembalian (return) saham perusahaan besar lebih besar dibandingkan return saham pada perusahaan berskala kecil. Dari pernyataan tersebut, maka hipotesis kelima dalam penelitian ini :
H5 : Size berpengaruh signifikan terhadap Return Saham

Rasio hutang atau leverage atau solvabilitas merupakan rasio untuk mengukur kemampuan perusahaan di dalam memenuhi seluruh kewajiban finansialnya apabila perusahaan dilikuidasi, secara umum leverage dapat dihitung dengan membagi total hutang dengan total ekuitas. Dengan semakin tinggi rasio hutang perusahaan menunjukkan bahwa tingginya hutang perusahaan yang dibiayai oleh modal saham yang ditanamkan pemegang saham (investor) akan memberikan beban tersendiri karena investor merasa terbebani dengan besarnya hutang yang dimiliki perusahaan. Investor tidak ingin mengambil resiko yang besar dalam berinvestasi dengan harapan bahwa investor nantinya memperoleh pengembalian (return) saham yang menguntungkan bagi mereka. Dari pernyataan tersebut, maka hipotesis keenam dalam penelitian ini :
H6: Rasio Hutang berpengaruh signifikan terhadap Return Saham

7. Metode Penelitian
7.1. Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan yang go publik dan terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2003 – 2006 sebanyak 343 perusahaan. Penelitian ini menggunakan laporan keuangan dan ICMD untuk kinerja tahun 2003 – 2006. Dengan menggunakan sampel yang relatif baru diharapkan hasil penelitian akan lebih relevan untuk memahami kondisi yang aktual di Indonesia.
Perusahaan yang menjadi sampel dalam penelitian ini adalah perusahaan yang dipilih berdasarkan metode purposive sampling yaitu pengambilan data berdasarkan kriteria-kriteria tertentu sebanyak 152 perusahaan. Adapun kriterianya yaitu perusahaan manufaktur di BEJ yang mempunyai laba bersih selama 4 berturut-turut periode 2003 – 2006. Pemilihan laba bersih menunjukkan tindakan manajemen laba yang dilakukan pihak manajemen. Perusahaan yang melakukan manajemen laba cenderung melakukan maximum income maximation agar laba pada periode sekarang menjadi lebih tinggi dari yang seharusnya. Di samping itu, pemilihan kriteria tersebut didasarkan pada keinginan investor untuk menanamkan investasinya pada perusahaan yang selalu laba. Investor tidak ingin beresiko untuk investasi pada perusahaan yang prospek ke depannya buruk. Lebih lanjut Sitompul (2004) menjelaskan bahwa laba mengindikasikan tingkat pertumbuhan yang tinggi, baik bagi perusahaan maupun bagi pasar.

7.2. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional
Dalam penelitian ini terdiri dari variabel bebas : Earning, Manajemen Laba, IOS, Beta, Size dan Rasio Hutang. Sedangkan variabel terikatnya yaitu return saham. Definisi operasional untuk masing-masing variabel dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. EARNING
Dalam penelitian ini variabel earning menggunakan proksi Earning Per Share. Earning per share sebagai ukuran profitabilitas perusahaan yang menjadi dasar penetapan tujuan perusahaan dan juga sebagai dasar pertimbangan calon investor dalam mengambil keputusan, memiliki banyak faktor yang mempengaruhi (Pancawati, Pramuka dan Jaryono, 2004). EPS merupakan perbandingan antara laba bersih dengan harga per lembar saham perusahaan yang dapat dirumuskan sebagai berikut :
EPS =
2. Manajemen Laba
Manajemen laba merupakan hal diperhatikan karena melibatkan potensi pelanggaran, kejahatan, dan konflik yang dibuat pihak manajemen perusahaan dalam rangka menarik minat investor (Kin Lo, 2007: 1).
Diskresioner total akrual dihitung dengan menggunakan Modified Jones’ Models. Modified Jones’ Models dapat mendeteksi manajemen laba lebih baik dibandingkan dengan model-model lainnya yang dikemukakan oleh Dechow (1995) dalam Rahmawati, Suparno dan Womariyah (2006).
Rumus manajemen laba (diskresioner total akrual) dalam penelitian ini dapat dilihat sebagai berikut : (Dechow, 1995 dalam Midiastuty dan Mas’ud, 2003) :
a. Total accruals sesungguhnya
TAC = NIit - CFit
Dimana,
NIit = laba bersih (net income) perusahaan i pada periode t
CFit = arus kas operasi (cash flow of operation) perusahaan i pada periode t
b. Total accruals yang diestimasi dengan persamaan regresi OLS (Ordinary Least Square) adalah

dimana,
TACt = total accruals dalam periode t
TAt-1 = total asset periode t-1
SALt = perubahan pendapatan atau penjualan bersih dalam periode t
PPEt = property, plan, and equipment periode t
1, 2, 3 = koefisien regresi

c. Non akrual diskresioner (NDA)

dimana,
RECt = perubahan piutang bersih dalam periode t
1, 2, 3 = fitted coefficient yang diperoleh dari hasil regresi pada perhitungan total accruals
d. Diskresioner Total Akrual (DA)

dimana,
DAt = diskresioner total akrual tahun t
TACt = total accruals tahun t
NDAt = non akrual diskresioner pada tahun t
3. Investment Opportunity Set (IOS)
Investment Opportunity Set adalah nilai sekarang dari pilihan-pilihan perusahaan untuk membuat investasi di masa mendatang. Proksi IOS yang digunakan dalam penelitian ini yaitu :
a) Rasio firm value to book of PPE (PPE / BVA) yang dirumuskan sebagai rasio antara aktiva tetap atau PPE dengan total aktiva.
b) Rasio Price Earning (P/E) yang dirumuskan rasio antara harga penutupan saham per lembar dengan laba bersih per saham.
c) Rasio market to book value of equity (MVE / BVA) yang dirumuskan (Lembar Saham Beredar x Harga Penutupan Saham) / Total Ekuitas
d) Rasio market to book value of asset (MVE / BVA) yang dirumuskan
{(Total Asset – Total Ekuitas) + (Lembar Saham Beredar x Harga Penutupan Saham) / Total Asset }
Dari rasio di atas, kemudian perusahaan diklasifikasikan ke dalam perusahaan bertumbuh dan tidak bertumbuh dengan menggunakan analisis faktor yaitu dengan menjumlahkan indeks faktor. Indeks faktor adalah variabel representatif dari IOS setelah dihitung dengan common factor analysis sebagai berikut :
- 50% perusahaan dengan IOS tertinggi merupakan perusahaan tumbuh
- 50% perusahaan dengan IOS terendah merupakan perusahaan tidak tumbuh
4. Risiko Sistematik (Beta)
Beta disebut juga risiko sistematik yaitu variasi pengembangan saham/portofolio berhubungan dengan perubahan pengembangan dalam pasar secara keseluruhanyang terjadi karena kejadian–kejadian di luar kegiatan perusahaan seperti inflasi, resesi dan sebagainya. Beta dapat dihitung dengan berdasarkan persamaan regresi sebagai berikut : (Elton dan Gruber dalam Jogiyanto, 2000)
Rit = i + i Rmt + eit
Dimana :
Rit = return saham perusahaan i pada tahun ke t
i = intersep dari regresi untuk masing-masing perusahaan i
i = beta untuk masing-masing perusahaan i
Rmt = return indeks pasar
eit = kesalahan residu
5. Ukuran Perusahaan (Size)
Ukuran perusahaan (size) menggambarkan besar kecilnya suatu perusahaan yang ditunjukkan oleh total aktiva, jumlah penjualan, rata-rata tingkat penjualan dan rata-rata total aktiva.
Dalam penelitian ini ukuran perusahaan diukur dengan menggunakan total aktiva.
SIZE = TOTAL AKTIVA = TOTAL ASSET
6. Debt (Rasio Hutang)
Rasio hutang atau leverage atau solvabilitas merupakan istilah yang sering digunakan perusahaan untuk mengukur kemampuan perusahaan di dalam memenuhi seluruh kewajiban finansialnya. Proksi rasio hutang dalam penelitian ini menggunakan rasio DER yaitu perbandingan antara total hutang dengan modal saham yang dirumuskan sebagai berikut :

7. Return Saham
Menurut Ang (1997: 97) konsep return (kembalian) adalah tingkat keuntungan yang dinikmati oleh pemodal atas suatu investasi yang dilakukannya. Return saham secara keseluruhan dapat dihitung dengan menggunakan rumus (Jogiyanto, 2000):
Return Saham =
Dimana:
P(t) = Harga Saham pada bulan ke – t
P(t-1)= Harga Saham pada bulan ke t-1
D(t) = Dividen pada bulan ke – t

7.3. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan model regresi linier berganda sebagai berikut : RET = a + b1.EPS + b2.DA + b3.IOS + b4.BETA + b5.SIZE + b6.DEBT

8. Hasil Penelitian dan Pembahasan
8.1. Data Sampel Penelitian
Penelitian dilakukan dari periode 2003 - 2006 pada perusahaan yang go public di Bursa Efek Indonesia dengan menggunakan metode purposive sampling yaitu suatu metode pengambilan sampel dengan cara menetapkan kriteria-kriteria, dimana dapat dilihat pengambilan sampel sebagai berikut :

Tabel
Penggolongan Perusahaan yang Go Public di BEI
Periode Tahun 2003 - 2006
No. Keterangan Jumlah
Perusahaan
1. Perusahaan go public di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang melaporkan laporan keuangan 343
2. Perusahaan go public di BEI yang tidak memiliki data laba bersih secara berturut-turut pada periode tahun 2003-2006 (191)
Sisa (Sampel Penelitian) 152
Sumber : Data sekunder yang diolah
Dari tabel 4.1 di atas diperoleh sampel penelitian dengan kriteria-kriteria yang telah ditentukan diperoleh sebanyak 152 perusahaan yang go public di Bursa Efek Indonesia, dengan metode pooling data atau gabungan antara time series data dan data cross section tahun 2003 - 2006, sehingga apabila dijumlahkan terdapat sampel (n) sebanyak 608. Pemilihan data panel atau pooling data didasarkan atas kelebihan-kelebihan yang dimiliki data panel dibandingkan menggunakan analisis data cross section maupun analisis data time series.

8.2. Pembahasan
Hasil uji regresi diperoleh bahwa :
Variabel Koefisien Regresi Tidak Standar Uji t Signifikansi/
Probabilitas
Keterangan
Konstanta -3.901
EPS 0.817 8.418 0.000 Signifikan pada α=5%
DA 0.077 0.619 0.537 Tidak Signifikan
IOS 0.169 0.541 0.589 Tidak Signifikan
BETA -0.098 -0.905 0.366 Tidak Signifikan
SIZE 0.167 1.837 0.068 Tidak Signifikan
DEBT -0.389 -3.186 0.002 Signifikan pada α=5%
F hitung = 20.313
Sig. Uji F = 0,000
Adjusted R Square=0,375

Persamaan regresi RET = -3,901 + 0,817.EPS + 0,077.DA + 0,169.IOS – 0,098.BETA + 0,167.SIZE – 0,389.DEBT


8.2.1. Pengaruh Earning terhadap Return Saham
Earning dalam penelitian ini diproksi menggunakan Earning Per Share yaitu rasio untuk mengukur jumlah rupiah untuk setiap lembar saham biasa. Secara teoritis, semakin tinggi earning, maka akan semakin tinggi keuntungan atas penjualan saham (return saham) perusahaan.
Hasil pengujian hipotesis diperoleh bahwa ada pengaruh yang positif antara Earning terhadap Return Saham. Nilai t hitung sebesar 8,418 dan nilai probabilitas sebesar 0,000 < taraf signifikansi 5%. Hasil ini sesuai dengan teori yang ada dimana semakin baik kualitas laba (earning) perusahaan maka akan semakin tinggi keuntungan atas penjualan saham (return saham) perusahaan. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Gul, Leung dan Srinindhi (2000); Pradhono dan Yulius Jogi Chritiawan (2004) yang berhasil membuktikan pengaruh antara earning terhadap return saham. Namun penelitian yang dilakukan oleh Robiatul Auliyah dan Ardi Hamzah (2006) tidak konsisten dengan penelitian ini yang memperoleh hasil bahwa earning tidak berpengaruh terhadap return saham.
8.2.2. Pengaruh Manajemen Laba (Diskresioner Akrual) terhadap Return Saham
Manajemen laba salah satu ukuran untuk mengetahui manipulasi laba yang dilakukan oleh manajer sebagai pihak agen. Manajemen laba dilakukan oleh manajer perusahaan dengan tujuan agar mereka dikontrak kembali untuk menjabat sebagai manajer di perusahaan tersebut di periode berikutnya. Manajemen laba yang tinggi akan berhubungan erat dengan kualitas laba yang rendah dan manajer melakukan manajemen laba untuk menjamin laba yang berkualitas tinggi.
Hasil pengujian hipotesis diperoleh bahwa tidak ada pengaruh antara Diskresioner Akrual terhadap Return Saham. Nilai t hitung sebesar 0,619 dan nilai probabilitas sebesar 0,537 > taraf signifikansi 5%. Hasil ini tidak sesuai dengan teori yang ada dimana manajemen laba yang tinggi akan berhubungan erat dengan kualitas laba yang rendah dan manajer melakukan manajemen laba untuk menjamin laba yang berkualitas tinggi. Hasil penelitian ini tidak sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Gul, Leung dan Srinindhi (2000); yang juga berhasil membuktikan pengaruh positif antara Diskresioner Akrual terhadap return saham. Namun penelitian yang dilakukan oleh Fanani (2006) memperoleh hasil yang berbeda yaitu variabel Diskresioner Akrual tidak berpengaruh signifikan terhadap return saham.
8.2.3. Pengaruh Investment Opportunity Set (IOS) terhadap Return Saham
Bagi perusahaan yang tidak dapat menggunakan kesempatan investasi tersebut akan mengalami suatu pengeluaran yang lebih tinggi dibandingkan dengan nilai kesempatan yang hilang. Nilai kesempatan investasi merupakan nilai sekarang dari pilihan-pilihan perusahaan untuk membuat investasi di masa mendatang.
Hasil penelitian diperoleh bahwa tidak ada pengaruh antara IOS terhadap Return Saham. Nilai t hitung sebesar 0,541 dan nilai probabilitas sebesar 0,589 > taraf signifikansi 5%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pertumbuhan perusahaan yang diproksi dengan IOS tidak dapat digunakan untuk memprediksi tingkat keuntungan saham (return).
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Jati (2005) dan Norpratiwi (2005) memperoleh hasil bahwa IOS tidak berpengaruh signifikan terhadap return saham. Namun penelitian yang dilakukan Gul, Leung dan Srinindhi (2000) dan Fanani (2006) berhasil membuktikan adanya pengaruh positif antara IOS terhadap return saham.
8.2.4. Pengaruh Beta Saham (Risiko Sistematik) terhadap Return Saham
Risiko sering dihubungkan dengan penyimpangan / deviasi dari out come yang diterima dengan yang diekspektasi. Resiko sistematis (systematic risk) adalah variasi pengembangan saham/portofolio berhubungan dengan perubahan pengembangan dalam pasar secara keseluruhan. Resiko yang tidak dapat didiversifikasikan disebut sebagai resiko pasar atau resiko umum atau resiko sistematik. Resiko ini terjadi karena kejadian–kejadian di luar kegiatan perusahaan seperti inflasi, resesi dan sebagainya.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh antara Beta saham terhadap Return Saham. Nilai t hitung sebesar -0,905 dan nilai probabilitas sebesar 0,366 > taraf signifikansi 5%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa besar kecilnya risiko sistematik (beta) pada perusahaan tidak dapat digunakan untuk memprediksi tingkat keuntungan saham (return).
Hasil penelitian oleh Meythi (2006) menunjukkan bahwa Beta tidak berpengaruh signifikan terhadap return saham; namun penelitian yang dilakukan oleh Pattengill, Sundaram, and Mathur (1995) diperoleh bahwa beta berpengaruh positif terhadap return saham.
8.2.5. Pengaruh Ukuran Perusahaan (Size) terhadap Return Saham
Ukuran perusahaan (size) menggambarkan besar kecilnya suatu perusahaan yang ditunjukkan oleh total aktiva, jumlah penjualan, rata-rata tingkat penjualan dan rata-rata total aktiva. Perusahaan yang berskala besar akan lebih mudah memperoleh pinjaman dibandingkan dengan perusahaan kecil. Dalam penelitian ini ukuran perusahaan diukur dengan menggunakan total aktiva. Perusahaan yang lebih besar memiliki pertumbuhan yang lebih besar dibandingkan perusahaan kecil.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh antara Size terhadap Return Saham. Nilai t hitung sebesar 1,837 dan nilai probabilitas sebesar 0,068 > taraf signifikansi 5%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa besar kecilnya ukuran perusahaan tidak dapat digunakan untuk memprediksi tingkat keuntungan saham (return).
Penelitian oleh Daniati dan Suhairi (2006) serta Yacob dan Qomariyah (2006) memperoleh hasil bahwa size berpengaruh negatif terhadap diskresioner akrual; namun penelitian yang dilakukan Rachmawati dan Triatmoko (2007); Halim, Meiden, dan Tobing (2005); Hall dan Stammerjohan (1997) menunjukkan ukuran perusahaan tidak berpengaruh terhadap diskresioner akrual.
8.2.6. Pengaruh Rasio Hutang (DER) terhadap Return Saham
Rasio hutang atau leverage atau solvabilitas merupakan istilah yang sering digunakan perusahaan untuk mengukur kemampuan perusahaan di dalam memenuhi seluruh kewajiban finansialnya apabila perusahaan dilikuidasi, secara umum leverage dapat dihitung dengan membagi total hutang dengan total ekuitas.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh signifikan dan negative antara Rasio hutang terhadap Return Saham. Nilai t hitung sebesar -3,186 dan nilai probabilitas sebesar 0,002 < taraf signifikansi 5%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa semakin tinggi rasio hutang perusahaan dapat digunakan untuk memprediksi menurunnya tingkat keuntungan saham (return). Sebaliknya, semakin rendah rasio hutang perusahaan dapat digunakan untuk memprediksi meningkatnya tingkat keuntungan saham (return).
Penelitian yang dilakukan oleh Rachmawati dan Triatmoko (2007); Halim, Meiden, dan Tobing (2005); Dechow (1996) dan Widyaningdyah (2001) menemukan bahwa rasio hutang (leverage) berpengaruh positif terhadap diskresioner akrual.

9. Kesimpulan
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa earning per share berpengaruh positif terhadap return saham; rasio hutang berpengaruh negatif terhadap terhadap return saham; sedangkan variabel bebas lainnya (Diskresioner Akrual, IOS, Beta Saham, dan Size tidak berpengaruh terhadap return saham. Besarnya pengaruh antara pengaruh Earning, Manajemen Laba, IOS, Beta, Size dan Rasio Hutang sebesar 37,50% dalam memprediksi Return saham. Sedangkan sisanya yaitu 62,50% dijelaskan oleh faktor-faktor lain, selain variabel yang diteliti di atas.

10. Keterbatasan Penelitian
Keterbatasan penelitian ini adalah penelitian ini tidak memperhatikan faktor makro perusahaan atau faktor risiko ekonomi di luar kinerja perusahaan.

11. Saran
Saran yang diberikan dari hasil penelitian ini antara lain : Acuan yang digunakan dalam penelitian ini hanya dibatasi pada variabel-variabel kinerja internal perusahaan. Oleh karena itu, untuk penelitian selanjutnya perlu meneliti dengan faktor risiko ekonomi, selain kinerja perusahaan seperti : suku bunga, kurs rupiah terhadap dollar, inflasi, pertumbuhan ekonomi dan faktor lainnya.

12. DAFTAR PUSTAKA
Ang, Robert. 1997. Pasar Modal Indonesia. Jakarta: PT Mediasoft Indonesia.
Ardiati, Aloysia Yanti, 2005. Pengaruh Manajemen Laba terhadap Return Saham terhadap Perusahaan yang Diaudit oleh KAP Big 5 dan KAP Non Big, Jurnal Riset Akuntansi Indonesia Vol. 8 hal 235-249.
Aulilla, Robiatul dan Hamzah, Ardi, 2006. Analisa Karakteristik Perusahaan, Industri Dan Ekonomi Makro Terhadap Return Dan Beta Saham Syariah Di Bursa Efek Jakarta. Jurnal Simposium Nasional Akuntansi 9 Padang.
Barclay M. I.; C. W. Smith and R. Watts, 1998. The Determinant of Corporate Leverage and Dividend Policies, Journal of Applied Corporate Finance Vol. 7 No.4, page. 4-19.
Black dkk., 2003. Predicting Firm’s Corporate Governance Choices: Evidence From Korea. Working Paper – www.papers.ssrn.com.
Collins D. W. dan S. P. Kothari, 1989. An Analysis of Intertemporal and Crosssectional Determinant of Earning Response Coefficient, Journal of Accounting and Economics Vol. 12 July, page 143-182.
Daniati, Ninna dan Suhairi, 2006. Pengaruh Kandungan Informasi Komponen Laporan Arus Kas, Laba Kotor dan Size Perusahaan terhadap Expectes Return Saham (Survey Pada Industri Tekstil dan Automotive yang Terdaftar di BEJ). Seminar Nasional Akuntansi 9 Padang; hal. 1-23.
Darmawati, Deni, 2006. Pengaruh Karakteristik Perusahaan Dan Faktor Regulasi Terhadap Kualitas Implementasi Corporate Governance. Seminar Nasional Akuntansi 9 Padang.
Dechow, P. 1996. Accounting Earnings and Cash Flows as Measures of Firm Performance: The Role of Accounting Accruals, Journal of Accounting and Economics Vol. 17, page 3-42.
Decow, Patricia M.; Richardson, Scott A.; Sloan Richard G. 2004. The Persistence and Pricing of the Cash Component of Earnings. Journal of Whartoon School University of Pennsylvania, page 1-33.
Dhaliwal, D. S., KJ Lee, dan S. S. Reynold, 1991. The Association Between Unexpected Earnings and Abnormal Security Return in The Presence of Financial Leverage, Contemporary Accounting Reviews, page 20-41.
Fanani, Zaenal, 2006. Manajemen Laba : Bukti dari Set Kesempatan Investasi, Utang, Kos Politis dan Konsentrasi Pasar Pada Pasar Yang Sedang Berkembang. Seminar Nasional Akuntansi 9 Padang, hal. 1-26.
Gaver, Jenifer dan Kenneth M. Gaver, 1993. Additional Evidence on The Association between the Investment Opportunity Set and Corporate Financing Dividend, and Compesation Policies, Journal of Accounting and Economic, page 125-160.
Ghozali, Imam, 2006, Aplikasi Analisis Multivariate, Edisi IV, Semarang : Badan Penerbit Universitas Diponegoro.
Gul, Leung dan Srinindhi, 2000. The Effect of Investment Opportunity Set and Debt Level on Earnings-Returns Relationship and the Pricing of Discretionary Accruals. AAANZ Conference and Accounting Seminars at City University of Hong Kong, Chinese University of Hong Kong, Rutgers University and State University of New York, page. 1-36.
Halim, Julia; Meiden, Carmel; dan Tobing, Rudolf Lumban, 2005. Pengaruh Manajemen Laba Pada Tingkat Pengungkapan Laporan Keuangan Pada Perusahaan Manufaktur yang Termasuk Dalam Indeks LQ45. Seminar Nasional Akuntansi VII Solo, hal. 117-135.
Hall, Steven C.; dan Stammerjohan, William W., 1997. Damage Awards and Earnings Management in the Oil Industry. The Accounting Review Vol. 72 No. 1 January page 47-65.
Hanafi, Mamduh M. dan Halim, Abdul, 2000, Analisis Laporan Keuangan, Yogyakarta : UPP AMP YKPN.
Hasan, Iqbal, 2002, Pokok-pokok Materi Statistik 2, Jakarta : PT. Bumi Aksara.
Indriantoro, Nur, Bambang Supomo, 1999. Metodologi Penelitian Bisnis, Edisi 1, Yogyakarta : BPFE.
Jati, I Ketut, 2005. Relevansi Nilai Dividend Yield dan Price Earning Ratio dengan Moderasi Investment Opportunity Set (IOS) Dalam Penilaian Harga Saham. Jurnal Riset Akuntansi Indonesia Vol. 8, No. 2 Mei, hal. 191-209.
Jogiyanto, Hartono, 2000. Teori Portofolio dan Analisis Investasi, Edisi Kedua, Yogyakarta: BPFE.
Kallapur, Sanjay dan Mark A. Trombley, 2001. The Association Between Investment Opportunity Set Proxies and Realized Growth. Journal of Bussiness Finance and Accounting.
Kole S. R. and K. M. Lehn, 1991. Deregulation and the Adaption of Governance Structure: The Case of the US Airline Industry, Journal of Financial Economics Vol. 52.
Kormendi dan Lipe, 1987. The Relation Between Stock Returns and Accounting Earning Given Alternative Information. The Accounting Review 65.
Lo, Kin, 2007. Earning Management and Earning Quality, Journal of Accounting and Economics, page 1-8.
Meythi, 2006. Pengaruh Arus Kas Operasi terhadap Harga Saham Dengan Persistensi Laba Sebagai Variabel Intervening. Seminar Nasional Akuntansi 9 Padang, hal. 1-24.
Myers, 1977. Determinants of Corporate Borrowing. Journal of Financial Economics 5, 147 – 175.
Norpratiwi, Agustina M. V. 2005. Analisis Korelasi Investment Opportunity Set Terhadap Return Saham (Pada Saat Pelaporan Keuangan Perusahaan). Jurnal STIE YKPN Yogyakarta hal. 1-28.
Penman, S. H. 1992. Financial Statement Information and Pricing of Earning Changes, Accounting Review, page 563-577 .
Penman, Stephen H., 1992. Financial Statement Analysis and Security Valuation. Singapore: Mc Graw Hill.
Putri, Imanda Firmantyas dan Nasir, Muhammad, 2006. Analisis Persamaan Simultan Kepemilikan Manajerial, Kepemilikan Institusional, Risiko, Kebijakan Hutang dan Kebijakan Dividen Dalam Perspektif Teori Keagenan. Seminar Nasional Akuntansi 9 Padang.
Rachmawati, Andri, dan Triatmoko, Hanung, 2007. Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kualitas Laba dan Nilai Perusahaan. Seminar Nasional Akuntansi 9 Padang, hal. 1-26.
Rachmawati, Suparno, Yacob dan Qonariyah, Nurul, 2007. Pengaruh Asimetri Informasi terhadap Praktik Manajemen Laba Pada Perusahaan Perbankan Publik yang Terdaftar di Bursa Efek Jakarta. Seminar Nasional Akuntansi 9 Padang, hal. 1-28.
Saiful, 2004. Hubungan Manajemen Laba (Earning Management) dengan Kinerja Operasi dan Return Saham di Sekitar IPO, Jurnal Riset Akuntansi Indonesia Vol. 7 No. 3 hal 316 – 332.
Santosa, Singgih, 2001, SPSS versi 10.0 Mengolah Data Statistik Secara Profesional, Jakarta : PT. Elex Media Komputindo.
Setiati Fita, 2004. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Koefisien Respon Laba Pada Perusahaan Bertumbuh dan Tidak Bertumbuh. Seminar Nasional Akuntansi VII Denpasar Bali, hal. 914-930.
Sitompul, Asril, 2004. Pasar Modal : Penawaran Umum dan Permasalahannya. Bandung : Penerbit PT. Citra Aditya Bakti.
Skinner, Douglas J., 1993. The Investment Opportunity Set and Corporate Control. Journal of Accounting and Economics, Vol. 16, page 407-445.
Smith, Jr. W Clifford dan R. L. Watts, 1992. The Investment Opportunity Set and Corporate Financing, Dividend and Compensation Policies. Journal of Financing Economics Vol. 32, page 263-292.
Sunariyah, 2004. Pengantar Pengetahuan Pasar Modal, Yogyakarta : UPP AMP YKPN.
Sunarto, 2004. Pengaruh Rasio Profitabilitas dan Leverage terhadap Return Saham Perusahaan Manufaktur di BEJ. Jurnal STIE STIKUBANK Semarang, hal. 63-81.
Veronica, S. dan Bachtiar Y. 2003. Hubungan Manajemen Laba dengan Tingkat Pengungkapan Laporan Keuangan, Seminar Nasional Akuntansi VI Surabaya, hal. 328-349.
Watt, Ross. L. and Jerold L. Zimmerman, 1978. Toward a Positive Theory of the Determination of Accounting Standards. The Accounting Review, Vol. LIII, No. 1, page 113-134.
Widyaningdyah, Agnes Utari, 2001. Analisis Faktor-faktor yang Berpengaruh Terhadap Earning Management Pada Perusahaan Go Publik di Indonesia. Jurnal Ekonomi FE Universitas Kristen Petra, hal. 89-101.
Wilfida HN., 2004. Pengaruh Perubahan Laba Per Lembar Saham (EPS) Terhadap Harga Saham. Jurnal SMART Vol. 1 No. 1 Januari 2004.